Universitas Gadjah Mada
Sebijak Institute
Fakultas Kehutanan UGM
  • Beranda
  • News
  • [After Report] Monitoring and Evaluation Kegiatan Penelitian Delta Mahakam, 16–20 Juni

[After Report] Monitoring and Evaluation Kegiatan Penelitian Delta Mahakam, 16–20 Juni

  • News
  • 27 July 2026, 16.55
  • Oleh: sebijak-institute.fkt
  • 0

Sebijak Institute Fakultas Kehutanan UGM bersama Forest and Society Research Group Universitas Hasanuddin, CE-HERO Universitas Mulawarman, East-West Center University of Hawai‘i, dan Cornell University, baru saja menyelesaikan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di Desa Sepatin dan Muara Pantuan, Kalimantan Timur, pada 16–21 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian panjang dari riset kolaborasi berjudul Vulnerable Deltas in Southeast Asia: Climate Change, Water Pollution, and Socio-Economic Transformation yang telah berjalan selama empat tahun sejak 2022.

Didanai melalui hibah dari Henry Luce Foundation dan dikoordinasikan oleh East-West Center, inisiatif ini adalah bagian dari konsorsium riset internasional yang menyoroti kerentanan tiga delta utama di kawasan ASEAN yang mencakup Delta Chao Phraya di Thailand, Delta Mekong di Kamboja dan Vietnam, dan Delta Mahakam di Kalimantan Timur, Indonesia. Sepanjang empat tahun perjalanannya, proyek ini tak hanya berfokus pada riset ekologis-sosial semata, tetapi juga mewadahi program pemberdayaan masyarakat oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, memfasilitasi penelitian tesis dan disertasi (S1 hingga S3), hingga sukses menggelar tiga kali workshop berskala internasional yang masing-masing diadakan di Bangkok, Thailand, Kalimantan Timur, Indonesia, dan Honolulu, Hawai’i.

Gambar 1. Sesi Pengarahan sebagai Kegiatan Pertama Pemantauan dan Evaluasi

Melibatkan tujuh peneliti dari berbagai institusi, kegiatan Monev di Indonesia ini dirancang untuk melakukan triangulasi data, memverifikasi temuan lapangan, serta memastikan konsistensi antar tema riset sebelum publikasi final. Rangkaian kegiatan dimulai pada (16/6) lewat sesi pemantapan, yang menyepakati tiga fokus utama pengembangan riset: hubungan remitansi (pengiriman uang) antara Sulawesi dan Sepatin, pola migrasi di Samarinda serta wilayah sekitar Delta Mahakam, dan dinamika implementasi program rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir.

Gambar 2. Dokumentasi Aktivitas Masyarakat Pesisir

Usai pemantapan, tim langsung menyusuri desa untuk mengenali lanskap sosio-ekologis secara partisipatif. Keesokan harinya (17/6), tim mendokumentasikan berbagai aktivitas masyarakat Sepatin, mulai dari panen udang, pengangkatan alat tangkap kepiting (rakang), hingga persiapan nelayan sebelum pergi melaut  melaut. Momen-momen ini ditangkap menggunakan drone dan kamera. Menariknya, rekaman visual ini kemudian diputar kembali di hadapan warga untuk memantik diskusi dan memverifikasi data lapangan.

Dari proses ini, tim memperoleh berbagai narasi lokal, salah satunya mengenai pertumbuhan mangrove di bekas tambak aktif. Warga menjelaskan bahwa perubahan kondisi lingkungan serta tidak adanya generasi penerus menyebabkan tambak ditinggalkan dan secara alami ditumbuhi mangrove jenis api-api.

Gambar 3. Tim melakukan Wawancara dengan Informan Terkait

Kegiatan berlanjut pada 18 Juni di Desa Muara Pantuan dengan fokus serupa, disertai penelusuran rantai pemasaran udang melalui pengamatan di pos-pos pengumpulan. Tim juga mewawancarai sejumlah informan yang mengungkap perubahan lingkungan, termasuk peningkatan muka air laut yang berdampak pada permukiman. Salah satu warga menyampaikan bahwa dalam periode 2020–2024, genangan air pasang semakin tinggi sehingga rumah perlu ditinggikan untuk beradaptasi.

Menutup rangkaian pada 19–20 Juni, seluruh tim menggelar diskusi intensif guna meramu strategi diseminasi riset. Berbagai peluang publikasi tengah disiapkan, di antaranya kajian M. Haidar terkait relasi aktor dalam kebijakan rehabilitasi mangrove, analisis Tamar mengenai persepsi masyarakat terhadap program implementasi karbon biru, serta studi Ratna tentang hubungan kompleks petambak dengan ekosistem mangrove dan tambaknya.

Sebagai bagian dari diseminasi perjalanan riset empat tahun ini, tim akan meluncurkan sebuah platform website terintegrasi. Ruang digital ini akan merangkum seluruh temuan penelitian ke dalam berbagai format populer seperti video dokumenter, story map, hingga book volume. Langkah kolaboratif ini diharapkan tak hanya memperluas akses publik terhadap pengetahuan sains, tetapi juga mendorong pengelolaan kawasan Delta Mahakam yang lebih tangguh di masa depan.

Gambar 4. Diskusi Intensif terkait Refleksi tentang Temuan Lapangan serta Pembuatan Rancangan Publikasi

Tags: Kebijakan kehutanan News research

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Universitas Gadjah Mada

SEBIJAK INSTITUTE
Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro, Bulaksumur No.1, Yogyakarta 55281

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY