Ahmad Maryudi – Sebijak Institute
— Hari-hari penuh rumor (dan harap, bagi sebagian orang) jelang pengumuman Kabinet Kerja jilid 2: dari nomenklatur kementerian yang menaungi sektor kehutanan sampai dengan nahkodanya. Banyak harapan yang digantungkan kepada nahkoda kementrian yang mengurus sektor kehutanan, termasuk untuk menuntaskan agenda strategis dan warisan PR lama yang belum terselesaikan, seperti agenda percepatan perhutanan sosial.
Beberapa waktu yang lalu dalam pertemuan dengan


Kabupaten Tambrauw di Papua Barat dibentuk menjadi kabupaten konservasi sebagai strategi birokrasi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dalam membentuk kabupaten konservasi tersebut, ditemukan tantangan seperti konflik kepentingan antara aras nasional dan di daerah. Menarasikan kepentingan konservasi dengan mengedepankan pembangunan daerah secara kolektif menjadi salah satu kunci untuk menyatukan persepsi dalam membangun kabupaten konservasi. Implementasi kabupaten konservasi

Salah satu kandidat doktor dari Sebijak Institute, Dwi Laraswati (Laras), akan mengikuti program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI)/Sandwich-like dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Program ini ditujukan bagi penerima beasiswa Program Magister Menuju Doktor Sarjana Unggul (PMDSU) untuk meningkatkan wawasan dalam menulis publikasi ilmiah berreputasi internasional bersama institusi mitra luar negeri. Laras memilih Georg-August-Universität Göttingen (Jerman) sebagai
