21st IASC Conference Planning Meeting and Field School
Dua peneliti Sebijak Institute, Muhammad Haidar Daulay dan Ratnasiwi Triari Ambarwati, berkesempatan mengikuti rangkaian kegiatan 21st IASC Conference Planning Meeting di Makassar dan Field School di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kegiatan Planning Meeting berlangsung pada 8–11 Juni 2026 dan mempertemukan anggota panitia konferensi, akademisi, peneliti, serta peserta field school dari berbagai institusi dan negara.
Hari Pertama (8 Juni 2026)
Kegiatan diawali dengan audiensi bersama pimpinan Universitas Hasanuddin untuk memperkenalkan anggota komite penyelenggara, peserta field school, serta memperkuat koordinasi menjelang pelaksanaan konferensi. Selain itu, peserta mengikuti campus tour untuk meninjau berbagai fasilitas yang akan digunakan selama penyelenggaraan 21st IASC Conference. Sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran dan pertukaran pengetahuan, peserta juga melakukan kunjungan ke Rumata’ Artspace dan kawasan karst Rammang-Rammang. Kunjungan ini memberikan kesempatan untuk memahami praktik seni berbasis komunitas yang dikembangkan oleh Rumata’, sekaligus mengeksplorasi hubungan antara masyarakat, lanskap, dan keberlanjutan di kawasan karst Rammang-Rammang.
Melalui diskusi, observasi lapangan, dan interaksi dengan berbagai aktor lokal, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran ruang budaya dan lingkungan dalam membangun ketahanan komunitas serta mendorong kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekologis kontemporer.
Hari Kedua (9 Juni 2026)
Pada hari kedua, peserta field school dibagi ke dalam empat kelompok untuk mengunjungi desa-desa yang telah dipilih sebagai lokasi pembelajaran bersama masyarakat lokal. Ratnasiwi dan Haidar berkesempatan mengunjungi Desa Rompegading.
Kelompok ini dipandu oleh Pak Hussein yang mengajak peserta menelusuri sejarah wilayah perbatasan antara Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Melalui perjalanan lapangan tersebut, peserta belajar mengenai sejarah penguasaan lahan pada masa kolonial Belanda, termasuk program penanaman hutan pinus yang mengubah lanskap sekaligus memengaruhi mata pencaharian masyarakat setempat.
Selain itu, peserta juga mendiskusikan berbagai bentuk commons atau sumber daya bersama yang dikelola dan dimanfaatkan masyarakat, seperti hasil hutan, satwa liar, serta sumber daya kayu. Pengalaman lapangan ini memunculkan kembali pertanyaan kritis yang menjadi tema utama konferensi, yaitu: “Commons untuk siapa?”—sebuah pertanyaan yang mendorong refleksi mengenai akses, kepemilikan, dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Hari Ketiga (10 Juni 2026)
Pada hari ketiga, komite penyelenggara konferensi melakukan gladi bersih serta berbagai persiapan teknis dan logistik. Sementara itu, peserta field school mengikuti diskusi intensif mengenai pengembangan tema penelitian dan pembagian kelompok kerja.
Beberapa tema yang akan menjadi fokus pembelajaran dan penelitian selama field school antara lain Tanah Gilirang (tata kelola tanah lokal), komoditas dan transformasi ekonomi pedesaan, political ecology and the state, serta indigenousity, resistance, and water. Tema-tema tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami berbagai dinamika sosial-ekologis yang berkembang di Sulawesi Selatan.
Hari Keempat (11 Juni 2026)
Pada hari keempat, peserta mengikuti sesi mengenai Environmental History yang dipandu oleh Ruizhi Chao. Melalui diskusi interaktif, peserta diajak untuk menelaah bagaimana narasi sejarah dibentuk, digunakan, dan diperdebatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sesi ini mengeksplorasi kekuatan dan keterbatasan berbagai sumber sejarah serta bagaimana pendekatan sejarah dapat diterapkan dalam penelitian lapangan. Peserta juga diajak merefleksikan bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa besar di masa lalu, tetapi juga membentuk identitas, komunitas, serta cara masyarakat memahami perubahan lingkungan dan sosial yang mereka alami.

Gambar 1. Audiensi Bersama Pimpinan Universitas Hasanuddin

Gambar 2. Berkunjung pada Kawasan Karst Rammang-Rammang
Gambar 3. Field School di Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung
Gambar 4. Enviromental History Session
Field School di Gowa
Hari Kelima (12 Juni 2026)
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Field School yang berlokasi di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Setibanya di lokasi, peserta singgah di Sumara dan mengikuti upacara penyambutan yang dipimpin oleh tokoh adat setempat.
Kegiatan penyambutan ini menjadi ruang awal untuk membangun hubungan antara peserta dan masyarakat lokal. Selain itu, dilakukan pula diskusi bersama mengenai agenda pembelajaran yang akan dilaksanakan selama beberapa hari ke depan, termasuk pengenalan terhadap sejarah wilayah, sistem pertanian lokal, dan tata kelola sumber daya yang berkembang di komunitas setempat.
Hari Keenam–Ketujuh (13–14 Juni 2026)
Selama dua hari berikutnya, peserta terlibat langsung dalam kegiatan belajar bersama masyarakat desa. Fokus utama pembelajaran adalah memahami sistem pengelolaan sawah, praktik pertanian lokal, serta tata kelola air yang telah dikembangkan dan diwariskan secara turun-temurun.
Peserta mempelajari bagaimana masyarakat mengatur distribusi air irigasi, membangun mekanisme kerja kolektif dalam perawatan saluran air, serta menjaga keberlanjutan produksi pertanian di tengah berbagai tantangan perubahan lingkungan. Diskusi bersama petani dan tokoh masyarakat menunjukkan bahwa pengelolaan air tidak hanya merupakan persoalan teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan nilai-nilai gotong royong, kelembagaan lokal, dan hubungan sosial antarwarga.
Melalui observasi lapangan dan pertukaran pengalaman dengan masyarakat, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana praktik-praktik commons terus dipertahankan dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman ini sekaligus memperkaya refleksi peserta mengenai pengelolaan sumber daya bersama dan relevansinya dalam menghadapi tantangan keberlanjutan di masa depan.
Gambar 5. Diskusi mengenai Agenda Pembelajaran di Kecamatan Pattallassang

Gambar 6. Observasi Lapangan


