Universitas Gadjah Mada
Sebijak Institute
Fakultas Kehutanan UGM
  • Beranda
  • News
  • [AFTER REPORT] KIE Jakarta Summit 2026: KONEKSI Dorong Inovasi Berbasis Riset untuk Ketahanan Iklim Inklusif dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

[AFTER REPORT] KIE Jakarta Summit 2026: KONEKSI Dorong Inovasi Berbasis Riset untuk Ketahanan Iklim Inklusif dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

  • News
  • 12 June 2026, 13.28
  • Oleh: sebijak-institute.fkt
  • 0

Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KONEKSI) sukses menyelenggarakan Knowledge and Innovation Exchange Jakarta Summit (KIE Jakarta Summit) pada 27–29 April 2026 di Shangri-La Jakarta. Roadshow ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian regional roadshow tingkat daerah yang sebelumnya telah sukses terlaksana di kota Makassar dan Yogyakarta. Pertemuan berskala nasional tersebut secara khusus mengusung tema “Innovating for Inclusive Climate Resilience and Economic Growth” sebagai landasan utama diskusi. Kegiatan ini berhasil mempertemukan sekitar 250 peserta yang terdiri dari Mitra penelitian KONEKSI, Perwakilan pemerintah baik di tingkat lokal maupun nasional, Organisasi masyarakat sipil, media nasional, Akademisi dari universitas lokal,  Jaringan KONEKSI (advokat inklusi disabilitas, pemimpin muda, dan peneliti dari Indonesia bagian Barat dan Timur), Akademisi Australia dan pakar terkait, serta perwakilan dari program-program yang didukung DFAT lainnya.

Roadshow puncak ini menghadirkan enam sesi diskusi membahas isu strategis mulai dari Ketahanan energi, Perubahan Iklim dan dampaknya terhadap kesehatan, Ketahanan pangan, Solusi inovatif untuk mitigasi krisis iklim, pengelolaan sumber daya air, hingga peran anak dan generasi muda dalam membangun ketahanan iklim. Berbagai hasil penelitian dari 38 proyek Environment and Climate Change (ECC) KONEKSI dipresentasikan sebagai contoh praktik baik yang dapat mendorong lahirnya kebijakan dan inovasi yang lebih efektif.

KIE Jakarta Summit 2026, menyoroti pentingnya kemitraan penelitian yang inklusif untuk menghasilkan dampak yang lebih luas dalam menjawab tantangan pembangunan dan perubahan iklim. Para pembicara menekankan bahwa kolaborasi yang efektif tidak cukup hanya mempertemukan berbagai pihak, tetapi perlu dibangun sejak awal penelitian melalui prinsip kemitraan yang setara, komunikasi yang terbuka, dan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. Prerana Mehta dari Australian Council of Learned Academies (ACOLA) juga menegaskan bahwa penelitian akan menjadi lebih terpercaya dan dapat diterapkan ketika pembuat kebijakan, industri, komunitas, dan pengguna akhir dilibatkan sejak tahap perancangan. Pertemuan ini juga membahas mengenai prinsip Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) perlu menjadi bagian integral dalam seluruh proses penelitian, bukan sekadar pelengkap metodologi. 

Pada sesi Mobilising Climate Adaptations: Water Management and Youth as Agents of Change, KONEKSI menggarisbawahi pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang adaptif dan berbasis masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Pada sesi ini, Prof. Ahmad Maryudi selaku Ketua Sebijak Institute Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada bersama Prof. Digby Race dari The Australian National University mempresentasikan hasil penelitian mengenai pendekatan Integrated Watershed Management Approach (IWMA) dan climate-smart agroforestry untuk memperkuat ketahanan sosial-ekologis masyarakat di pulau-pulau kecil Indonesia Timur. Penelitian ini adalah hasil kolaborasi dari Sebijak Institute UGM, Australian National University (ANU), Universitas Mataram (UNRAM), Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW), Universitas Pattimura (UNPATTI), dan Center for International Forestry Research (CIFOR). Dalam kesempatan ini, Prof. Ahmad Maryudi menjelaskan bahwa adaptasi iklim yang efektif perlu dibangun melalui proses pembelajaran bersama masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi setempat, bukan melalui pendekatan yang seragam. 

Dalam roadshow ini, KONEKSI tidak hanya mempertemukan para peneliti dengan pengguna hasil riset, tetapi juga memperkuat dialog antara berbagai pemangku kepentingan agar temuan penelitian dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, program, maupun solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Summit ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kemitraan pengetahuan Indonesia–Australia serta mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Universitas Gadjah Mada

SEBIJAK INSTITUTE
Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro, Bulaksumur No.1, Yogyakarta 55281

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY