KONEKSI menyelenggarakan Knowledge and Innovation Exchange Roadshow (KIE Roadshow) di Yogyakarta pada 19–20 November 2025 di The Alana and Convention Center Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan memperluas diseminasi hasil penelitian, mempertemukan peneliti dengan pembuat kebijakan, serta memperkuat kolaborasi ilmu pengetahuan antara Indonesia dan Australia dalam mendorong kebijakan perubahan iklim yang inklusif dan berkelanjutan.
Acara dibuka oleh Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof Agus Haryono; Special Envoy for Indian Ocean Affairs Pemerintah Australia, Tim Watts; serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Tri Saktiyana. Para pemimpin lembaga menegaskan pentingnya kolaborasi riset antarnegara untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin kompleks.

Sebagai salah satu mitra penelitian, Sebijak Institute turut berpartisipasi dengan menghadirkan jajaran penelitinya: Dr. Dwi Laraswati, Sabila Nabichati Musyafa M.Sc., dan Ni Nyoman Bintarin Milenia M.Sc. Sebijak merupakan lembaga yang menerima dukungan pendanaan riset dari KONEKSI yang dipimpin oleh Prof. Ahmad Maryudi pada periode 2023–2024.
KIE terdiri dari berbagai bentuk dialog dan presentasi dari peneliti, masyarakat, dan pemangku kebijakan. Acara dibuka dengan presentasi abstrak 15 riset oleh berbagai gabungan peneliti Indonesia-Australia terkait lingkungan dan perubahan iklim. Presenti ini memperkenalkan penelitian-penelitian yang akan dibahas acara ini.

Berbagai sesi diskusi menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya teknis, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat. Riset-riset yang dibahas memperlihatkan bagaimana kerugian non material, terutama yang dialami perempuan dan anak, sering luput dari proses perumusan kebijakan sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Prof. Aan Eko dan Prof. Patrick Keyzer, “Using Restorative Justice Techniques to Build Resilience and Address Climate Change Harms in Indonesia”. Kerangka keadilan restoratif dipandang sebagai pendekatan yang memberi ruang lebih besar bagi masyarakat terdampak untuk menyampaikan pengalaman langsung dan memastikan suara mereka menjadi bagian dari kebijakan.
Dari sisi inovasi, para peneliti menegaskan bahwa temuan ilmiah hanya berdampak jika didukung sistem yang memungkinkan penerapannya. Prof. Yekti Asih menunjukkan bahwa varietas padi tahan kekeringan baru dapat dimanfaatkan petani apabila didukung regulasi, uji lapangan bersama industri, serta penerimaan kebijakan. Temuan Dr. Xiao Liu dan Dr. Hilya Mudrika juga memperlihatkan adanya pergeseran sumber informasi di daerah pedesaan Indonesia yang semakin mengandalkan media sosial, menandakan peluang besar pemanfaatan kanal digital untuk memperkuat literasi iklim.

Sementara itu, pembahasan mengenai infrastruktur adaptif menegaskan pentingnya kebijakan yang sensitif terhadap perbedaan pengalaman kelompok masyarakat. Menurut Prof. Wiwandari Handayani dan Prof. Connie Susilawati, anak dan lansia teridentifikasi sebagai pihak yang menghadapi risiko lebih tinggi saat banjir tetapi belum sepenuhnya terjangkau sistem penanganan bencana. Sementara A/Prof. Sonia Roitman dan Dr. Farida Rachmawati mengatakan bahwa dampak banjir tidak sama pada seluruh lapisan Masyarakat sehingga selain aspek teknis, penanganan banjir harus melihat dari aspek sosial ekologis.

Kajian lain mengenai pengelolaan sumber daya alam juga menunjukkan solusi yang tengah berkembang, mulai dari riset Astuti Kusumaningrum dan Prof. Ryan Edwards yang menyoroti perlunya dukungan kebijakan dan sosialisasi terarah agar petani sawit kecil dapat mengakses program peremajaan, hingga temuan Dr. Lilis Mulyani dan Dr. Teressa Toumbourou bahwa perhutanan sosial meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun perempuan masih menghadapi hambatan administratif dan keterbatasan akses informasi. Sementara itu Dr. Entin Karjadi menegaskan bahwa krisis air Jakarta terutama dipicu kurangnya kapasitas penyimpanan, sehingga integrasi waduk pesisir dan perlindungan pantai dinilai sebagai pendekatan yang lebih berkelanjutan.

Isu inklusi juga menjadi sorotan. Perwakilan penyandang disabilitas mengingatkan bahwa penelitian sering kali tidak memotret kebutuhan mereka karena tidak melibatkan difabel sejak tahap awal. Seperti disampaikan oleh Elo Kusuma dari Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), keterbatasan fisik bukan hambatan untuk berkontribusi sebagai peneliti atau enumerator. Justru keterlibatan langsung membuka ruang kesetaraan sekaligus memperkaya temuan penelitian di lapangan.

Diskusi kelompok (FGD) yang mengiringi berbagai sesi memperdalam proses ini. Peserta diajak mengevaluasi tiga inovasi yang dipresentasikan pada dialog, menilai mana yang paling berpotensi membawa dampak, siapa kelompok yang paling membutuhkan intervensi tersebut, serta langkah nyata yang perlu disiapkan untuk mewujudkannya. Pembicaraan berkembang dari isu kebijakan, pendanaan, keterlibatan aktor lokal, hingga kesiapan kelembagaan – sebuah proses yang memungkinkan hasil riset bergerak lebih dekat ke penerapan nyata, terutama bagi wilayah dan komunitas yang berada dalam posisi paling rentan.

Menjelang penutupan, para peneliti berkesempatan mempresentasikan temuan dalam bentuk poster interaktif di hadapan pemangku kepentingan. Poster terbaik akan diikutsertakan dalam kegiatan puncak KIE Roadshow di Jakarta pada Februari 2026.
KIE Roadshow Yogyakarta memperlihatkan bahwa penelitian dapat mendorong perubahan ketika dilakukan secara inklusif, menghargai pengalaman masyarakat, dan terhubung dengan sistem pengambilan keputusan publik. Temuan dari dua negara menggarisbawahi kenyataan bahwa kelompok marjinal masih sering luput dalam proses riset, sehingga dampaknya belum merata. Melalui kolaborasi, pemahaman konteks lokal, dan pembelajaran lintas negara, KONEKSI memandang bahwa penelitian dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik pembangunan yang lebih responsif, adil, dan berkelanjutan bagi semua pihak yang dilayani.