
Saat ini bumi yang kita tinggali sedang tidak baik-baik saja. Sejak dimulainya penggunaan bahan bakar fosil secara masif pada abad ke-19, iklim di bumi menjadi sangat menghawatirkan. Gas-gas rumah kaca yang dihasilkan menyebabkan ozon berlubang dan memerangkap panas matahari di Bumi. Hutan yang berperan menyerap emisi gas rumah kaca di atmosfer justru mengalami kerusakan. Sejak 2011, Indonesia tergabung dalam REDD+ yang menjadi wadah bagi negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi gas

Ketua Sebijak Institute, Prof.Dr. Ahmad Maryudi, mendapat kehormatan diangkat menjadi Adjunct Professor di


Kabupaten Tambrauw di Papua Barat dibentuk menjadi kabupaten konservasi sebagai strategi birokrasi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dalam membentuk kabupaten konservasi tersebut, ditemukan tantangan seperti konflik kepentingan antara aras nasional dan di daerah. Menarasikan kepentingan konservasi dengan mengedepankan pembangunan daerah secara kolektif menjadi salah satu kunci untuk menyatukan persepsi dalam membangun kabupaten konservasi. Implementasi kabupaten konservasi

Salah satu kandidat doktor dari Sebijak Institute, Dwi Laraswati (Laras), akan mengikuti program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI)/Sandwich-like dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Program ini ditujukan bagi penerima beasiswa Program Magister Menuju Doktor Sarjana Unggul (PMDSU) untuk meningkatkan wawasan dalam menulis publikasi ilmiah berreputasi internasional bersama institusi mitra luar negeri. Laras memilih Georg-August-Universität Göttingen (Jerman) sebagai
